Posts

Misteri Pembahasan Agama dalam MADILOG: Mengapa Tan Malaka Membahas Agama Padahal Dia Komunis?

Image
Ferry Hidayat Senior Researcher Kolekif Wakaf Nalar (KWN) Mengapa Tan Malaka membahas agama-agama dalam buku MADILOG padahal ia seorang komunis, dan seorang komunis jelas-jelas akan membenci agama? Inilah misteri yang akan diungkap di sini. Yang harus dicermati pertama-tama ialah bahwa Tan Malaka jelas-jelas tidak mengambil langkah tegas perihal agama-agama sebagaimana Karl Marx. Karl Marx terang-terangan ateis. Dalam bukunya A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1844), Karl Marx menegaskan bahwa agama harus dikritik dan dihapuskan:   For Germany, the criticism of religion has been essentially completed, and the criticism of religion is the prerequisite of all criticism.  The profane existence of error is compromised as soon as its heavenly oratio pro aris et focis [“speech for the altars and hearths,” i.e., for God and country] has been refuted. Man, who has found only the reflection of himself in the fantastic reality of heaven, where he sough...

Untungnya, Republik Cuma Stop Di Gagasan, Andai Berhasil Diwujudkan Tan Malaka, Maka Republik Ini Jadi Republik Soviet Diktatoriat Deh!

Image
Ferry Hidayat Senior Researcher Kolektif Wakaf Nalar (KWN) Kalau dipikir-pikir pakai akal sehat, ada untungnya juga buku Naar de Republik Indonesie (Menuju Republik Indonesia) cuma hanya sebatas ide dari seorang Tan Malaka. Bayangkan jika ide itu berhasil diwujudkan Tan Malaka dan partai komunisnya; bisa-bisa republik kita yang tercinta ini jadi republik transisional saja—republik yang dibangun untuk sementara saja, karena ia nanti akan diubah lagi sama kaum buruh komunis jadi proletariat dictatorship yang berbentuk soviet-soviet. Lalu,—ketika ‘diktator MURBA sudah berdiri tegak dan segala residu-residu kapitalis-borjuis hilang dimusnahkan kaum buruh komunis,—maka proletariat dictatorship itu akan diganti lagi oleh kaum buruh komunis jadi masyarakat tanpa-negara ( clashless society ), di mana ‘Surga di Bumi’ terwujud. Gimana dong nasib orang selain kaum buruh komunis saat republik ala Tan Malaka yang ia gagas di buku Naar de Republik itu terwujud? Bisa dipastikan: nasibnya naaslah, ata...

Saat Seluruh Rakyat Senang Kemerdekaan Diproklamasikan Soekarno-Hatta, Tan Malaka Hanya Apatis

Image
Ferry Hidayat Senior Research Kolektif Wakaf Nalar (KWN) Walaupun Tan Malaka dalam kondisi persembunyian takut ditangkap kolonialis Jepang saat Indonesia dijajah Jepang, tapi ia mengetahui jalannya rapat BPUPKI, “Piagam Jakarta”, dan PPKI dari tempat persembunyiannya melalui kontaknya dengan Subardjo, teman seideologisnya Tan Malaka. Bahkan, sejak awal tahun 1945, Subardjo telah berkali-kali menemui Tan Malaka, sambil menginformasikan kondisi politik termutakhir.   Di tanggal 14 Agustus 1945—tiga hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI—Tan Malaka tampak bertemu dengan Sukarni, teman seideologisnya juga. Sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, tepatnya di awal September 1945, Tan Malaka bertemu dengan Presiden Soekarno, yang menginfokan kondisi Indonesia dari sebelum Proklamasi hingga Proklamasi, termasuk menginfokan keputusan PPKI tentang rumusan UUD ’45. Tulis Tan Malaka: … pada permulaan September 1945 itulah Ir. Soekarno dan saya berkenalan nama dengan nama. Muka dengan muk...

Menyingkap Misteri Paragraf Terakhir Buku MADILOG

Image
Ferry Hidayat Senior Researcher Kolektif Wakaf Nalar (KWN)   Dua paragraf terakhir buku MADILOG yang dikarang Tan Malaka terindikasi mengandung ajaran ateistik. Apa iya? Mari kita kaji. Saya kutip dulu paragraf tersebut, lalu saya kaji: "Ada kalanya semua pengetahuan didasarkan dan diasalkan pada sesuatu yang berpikiran dan berperasaan dan berkemauan seperti kita manusia. Gurun dan hujan umpamanya diasal dan didasarkan pada Hantu dan Dewa, yang bersifat kemanusiaan. Tetapi sekarang tak ada lagi para terpelajar yang mengendaki Hantu dan Dewa itu sebagai dasar dan asal. Cukuplah sudah buat otak kita hukum alam sebagai asal dan dasar." "Demikianlah juga pada kalanya, manusia dan moralnya diasal dan diakhirkan pada sesuatu, pada Yang Maha Kuasa, yang dalam hakekatnya juga mengandung sifat kemanusiaan. Tetapi dari masa sekarang sudahlah cukup buat otak dan hati kita, kalau manusia dan moralnya itu diasal dan diakhirkan pada masyarakat dan hukumnya masyarakat itu sendiri. Buru...