Menyingkap Misteri Paragraf Terakhir Buku MADILOG

Ferry Hidayat

Senior Researcher Kolektif Wakaf Nalar (KWN)

 Dua paragraf terakhir buku MADILOG yang dikarang Tan Malaka terindikasi mengandung ajaran ateistik. Apa iya? Mari kita kaji.

Saya kutip dulu paragraf tersebut, lalu saya kaji:

"Ada kalanya semua pengetahuan didasarkan dan diasalkan pada sesuatu yang berpikiran dan berperasaan dan berkemauan seperti kita manusia. Gurun dan hujan umpamanya diasal dan didasarkan pada Hantu dan Dewa, yang bersifat kemanusiaan. Tetapi sekarang tak ada lagi para terpelajar yang mengendaki Hantu dan Dewa itu sebagai dasar dan asal. Cukuplah sudah buat otak kita hukum alam sebagai asal dan dasar."

"Demikianlah juga pada kalanya, manusia dan moralnya diasal dan diakhirkan pada sesuatu, pada Yang Maha Kuasa, yang dalam hakekatnya juga mengandung sifat kemanusiaan. Tetapi dari masa sekarang sudahlah cukup buat otak dan hati kita, kalau manusia dan moralnya itu diasal dan diakhirkan pada masyarakat dan hukumnya masyarakat itu sendiri. Buruk dan baik itu, ialah buruk dan baik buat masyarakat itu sendiri. Asalnya masyarakat itu sendiri, dari pergaulan antara manusia dan manusia dalam masyarakat itu sendiri. Perbuatan yang baik mendatangkan akibat yang baik. Perbuatan yang buruk menimbulkan akibat yang buruk pula buat masyarakat itu sendiri. Contoh ini boleh diambil dari segala bangsa dan sejarahnya segala bangsa, dan sejarahnya segala bangsa itu dibumi ini. Hukum buruk dan baik, boleh dipetik dan dibentuk dari sejarahnya segala bangsa dan Negara yang dulu dan sekarang. Dengan begitu manusia dan moralnya sudah berdasarkan Bukti, sudah nyata dan peralaman, dan bisa berdiri atas kakinya sendiri. dan kakinya itu berada dalam masyarakat Manusia serta moralnya. Tak perlu lagi Hantu atau Dewa sebagai awal dan akhirnya manusia dan moralnya. Malah Hantu dan Dewa itu menemui akhirnya pada manusia dan moralnya yang nyata, yang berdasarkan masyarakat." 

Dua paragraf ini ada di buku MADILOG halaman terakhir. Mohon dibaca pelan-pelan sekali, supaya tidak tersedak dengan ajaran ateistik yang maha padat ini.

Jika masih kesulitan menyingkap ateisme yang tersembunyi rapi di balik kata-kata Tan Malaka ini, izinkan kami parafrase kalimat per kalimat sehingga main idea-nya nampak.

·       Ada kalanya semua pengetahuan didasarkan dan diasalkan pada sesuatu yang berpikiran dan berperasaan dan berkemauan seperti kita manusia = di zaman dulu, pengetahuan dianggap berdasarkan dan dianggap berasal dari suatu zat yang berpikir, berperasaan, berkemauan seperti layaknya kita manusia.

·         Gurun dan hujan umpamanya diasal dan didasarkan pada Hantu dan Dewa, yang bersifat kemanusiaan = misalnya, pengetahuan mengenai gurun dan pengetahuan mengenai hujan dianggap berasal dan dianggap berdasarkan pada Hantu dan Dewa yang sifatnya seperti manusia ( = berpikir, berperasaan, berkemauan).

·         Tetapi sekarang tak ada lagi para terpelajar yang mengendaki Hantu dan Dewa itu sebagai dasar dan asal. Cukuplah sudah buat otak kita hukum alam sebagai asal dan dasar = tetapi sekarang, tak ada lagi kaum terpelajar yang menganggap Hantu dan Dewa itu sebagai dasar dan asal segala sesuatu.

·         Cukuplah sudah buat otak kita hukum alam sebagai asal dan dasar (sudah jelas, tidak usah diparafrase).

·         Demikianlah juga pada kalanya, manusia dan moralnya diasal dan diakhirkan pada sesuatu, pada Yang Maha Kuasa, yang dalam hakekatnya juga mengandung sifat kemanusiaan = di zaman dulu, manusia dan moral manusia juga dianggap berasal dan dianggap berakhir pada suatu zat, Yang Maha Kuasa, yang secara hakiki bersifat seperti manusia ( = berpikir, berperasaan, berkemauan).

·         Tetapi dari masa sekarang sudahlah cukup buat otak dan hati kita, kalau manusia dan moralnya itu diasal dan diakhirkan pada masyarakat dan hukumnya masyarakat itu sendiri = tetapi sekarang sudah cukup buat otak dan hati kita untuk menganggap bahwa manusia dan moral manusia berasal dan berakhir pada masyarakat dan hukum sosial yang ada dalam masyarakat itu sendiri.  

·         Buruk dan baik itu, ialah buruk dan baik buat masyarakat itu sendiri (sudah jelas).

·         Asalnya masyarakat itu sendiri, dari pergaulan antara manusia dan manusia dalam masyarakat itu sendiri (sudah jelas).

·         Perbuatan yang baik mendatangkan akibat yang baik (sudah jelas)

·         Perbuatan yang buruk menimbulkan akibat yang buruk pula buat masyarakat itu sendiri (sudah jelas)

·         Contoh ini boleh diambil dari segala bangsa dan sejarahnya segala bangsa, dan sejarahnya segala bangsa itu dibumi ini (sudah jelas)

·         Hukum buruk dan baik, boleh dipetik dan dibentuk dari sejarahnya segala bangsa dan Negara yang dulu dan sekarang (sudah jelas)

·         Dengan begitu manusia dan moralnya sudah berdasarkan Bukti, sudah nyata dan peralaman, dan bisa berdiri atas kakinya sendiri. dan kakinya itu berada dalam masyarakat Manusia serta moralnya = dengan mengambil contoh moralitas baik-buruk dari sejarah bangsa-bangsa di muka bumi ini, manusia dan moral manusia zaman ini sudah berdasarkan bukti yang riel dan empiris. Manusia dan moral manusia sudah mampu berdiri di atas hukum sosial dan moralitas sosialnya sendiri.   

·         Tak perlu lagi Hantu atau Dewa sebagai awal dan akhirnya manusia dan moralnya (sudah jelas).

·         Malah Hantu dan Dewa itu menemui akhirnya pada manusia dan moralnya yang nyata, yang berdasarkan masyarakat = Justru Hantu dan Dewa itu berakhir pada manusia dan moral manusia yang riel dan berdasarkan hukum sosial.

 

Sekarang, kita rangkai semua parafrase tadi dalam dua paragraf: 

Di zaman dulu, pengetahuan dianggap berdasarkan dan dianggap berasal dari suatu zat yang berpikir, berperasaan, berkemauan seperti layaknya kita manusia. Misalnya, pengetahuan mengenai gurun dan pengetahuan mengenai hujan dianggap berasal dan dianggap berdasarkan pada Hantu dan Dewa yang sifatnya seperti manusia ( = berpikir, berperasaan, berkemauan). Tetapi sekarang, tak ada lagi kaum terpelajar yang menganggap Hantu dan Dewa itu sebagai dasar dan asal segala sesuatu. Cukuplah sudah buat otak kita hukum alam sebagai asal dan dasar.

Di zaman dulu, manusia dan moral manusia juga dianggap berasal dan dianggap berakhir pada suatu zat, Yang Maha Kuasa, yang secara hakiki bersifat seperti manusia ( = berpikir, berperasaan, berkemauan). Tetapi sekarang sudah cukup buat otak dan hati kita untuk menganggap bahwa manusia dan moral manusia berasal dan berakhir pada masyarakat dan hukum sosial yang ada dalam masyarakat itu sendiri.  Buruk dan baik itu, ialah buruk dan baik buat masyarakat itu sendiri. Asalnya masyarakat itu sendiri, dari pergaulan antara manusia dan manusia dalam masyarakat itu sendiri. Perbuatan yang baik mendatangkan akibat yang baik. Perbuatan yang buruk menimbulkan akibat yang buruk pula buat masyarakat itu sendiri. Contoh ini boleh diambil dari segala bangsa dan sejarahnya segala bangsa, dan sejarahnya segala bangsa itu dibumi ini. Hukum buruk dan baik, boleh dipetik dan dibentuk dari sejarahnya segala bangsa dan negara yang dulu dan sekarang. Dengan mengambil contoh moralitas baik-buruk dari sejarah bangsa-bangsa di muka bumi tadi, manusia dan moral manusia zaman ini sudah berdasarkan bukti yang riel dan empiris. Manusia dan moral manusia sudah mampu berdiri di atas hukum sosial dan moralitas sosialnya sendiri. Tak perlu lagi Hantu atau Dewa sebagai awal dan akhirnya manusia dan moralnya. Justru Hantu dan Dewa itu berakhir pada manusia dan moral manusia yang riel dan berdasarkan hukum sosial.

 

Sekarang kita kaji makna dan arti dari dua paragraf tadi. 

Paragraf pertama adalah penolakan Tan Malaka akan epistemologi ‘Hantu dan Dewa’ dan menyatakan persetujuannya akan epistemologi ‘hukum alam’. Sedangkan paragraf kedua adalah penolakan Tan Malaka akan ontologi manusia yang berasal dari zat ‘Yang Maha Kuasa’ dan ontologi moral yang berasal dari zat ‘Yang Maha Kuasa’, lalu ia menyatakan persetujuannya akan ontologi manusia yang berasal dari masyarakat, dan ontologi moral yang berasal dari hukum-hukum sosial segala bangsa di muka bumi ini.

Untuk mendukung argumennya, Tan Malaka bilang bahwa pergeseran epistemologis dan pergeseran ontologis tadi adalah karena otak dan hati manusia zaman ini (di zaman Tan Malaka hidup, paruh pertama abad 20 M) sudah cukup mampu menjadi dasar epistemologi dan ontologi, sehingga zat ‘Yang Maha Kuasa’ dan ‘Hantu dan Dewa’ tidak diperlukan lagi oleh manusia zaman ini. Bahkan, sesumbar si Tan, zat ‘Yang Maha Kuasa’ dan ‘Hantu dan Dewa’ “menemui akhirnya”, berakhir pada “manusia dan moralnya yang nyata, yang berdasarkan masyarakat.” Manusialah the survivor yang menggantikan zat ‘Yang Maha Kuasa’ dan yang menggantikan ‘Hantu dan Dewa’.

Sekarang saya ingin melakukan intertextual demonstration, menunjukkan bahwa dua paragraf yang ditulis Tan Malaka ini menyampaikan message yang sama dengan tulisan Mao Tse-Tung, tokoh komunis RRC—message bahwa manusia abad 20 sudah tidak memerlukan Yang Maha Kuasa, Hantu dan Dewa:

There is an ancient Chinese fable called “The Foolish Old Man Who Removed the Mountains”. It tells of an old man who lived in northern China long, long ago and was known as the Foolish Old Man of North Mountain. His house faced south and beyond his doorway stood the two great peaks, Taihang and Wangwu, obstructing the way. He called his sons, and hoe in hand they began to dig up these mountains with great determination. Another greybeard, known as the Wise Old Man, saw them and said derisively, “How silly of you to do this! It is quite impossible for you few to dig up these two huge mountains.” The Foolish Old Man replied, “When I die, my sons will carry on; when they die, there will be my grandsons, and then their sons and grandsons, and so on to infinity. High as they are, the mountains cannot grow any higher and with every bit we dig, they will be that much lower. Why can’t we clear them away?” Having refuted the Wise Old Man’s wrong view, he went on digging every day, unshaken in his conviction. God was moved by this, and he sent down two angels, who carried the mountains away on their backs. Today, two big mountains lie like a dead weight on the Chinese people. One is imperialism, the other is feudalism. The Chinese Communist Party has long made up its mind to dig them up. We must persevere and work unceasingly, and we, too, will touch God’s heart. Our God is none other than the masses of the Chinese people. If they stand up and dig together with us, why can’t these two mountains be cleared away?” 

Terjemah: Ada sebuah dongeng Tiongkok kuno berjudul “Orang Tua Bodoh yang Memindahkan Gunung”. Dongeng ini bercerita tentang seorang kakek yang hidup di Tiongkok utara pada zaman dahulu. Ia dikenal sebagai Orang Tua Bodoh dari Gunung Utara. Rumahnya menghadap ke selatan, tetapi tepat di depan pintunya berdiri dua gunung besar, Gunung Taihang dan Gunung Wangwu, yang menghalangi jalan. Suatu hari ia memanggil anak-anaknya. Dengan cangkul di tangan, mereka mulai menggali gunung-gunung itu dengan tekad yang kuat. Seorang kakek lain yang disebut Orang Tua Bijak melihat mereka lalu mengejek, “Betapa bodohnya kalian! Mustahil orang sebanyak ini bisa menggali dua gunung sebesar itu.” Orang Tua Bodoh menjawab, “Kalau aku mati, anak-anakku akan melanjutkan. Kalau mereka mati, ada cucucucuku. Setelah itu masih ada anak dan cucu mereka, terus sampai tidak ada habisnya. Gunung-gunung itu setinggi apa pun tidak akan bertambah tinggi, dan setiap kali kami menggali, gunung itu pasti makin rendah. Mengapa kami tidak bisa menyingkirkannya?” Setelah membantah pandangan keliru Orang Tua Bijak, ia terus menggali setiap hari tanpa goyah sedikit pun. Tuhan pun tergerak oleh keteguhan hati itu, lalu mengutus dua malaikat yang mengangkat kedua gunung tersebut dan membawanya pergi. Hari ini, ada dua “gunung besar” yang menindih rakyat Tiongkok seperti beban berat. Yang satu adalah imperialisme, yang lain adalah feodalisme. Partai Komunis Tiongkok sejak lama sudah bertekad untuk menggali dan menyingkirkan kedua gunung itu. Kita harus terus berjuang dan bekerja tanpa henti, dan kita juga akan “menyentuh hati Tuhan”. Tuhan kita tidak lain adalah massa rakyat Tiongkok sendiri. Jika mereka bangkit dan menggali bersama kita, mengapa kedua gunung itu tidak bisa disingkirkan?

Kalau Mao Tse-Tung sungguh eksplisit mengatakan ‘Tuhan kita tidak lain adalah massa rakyat Tiongkok sendiri’, maka Tan Malaka dengan malu-malu mengatakan ‘Hantu dan Dewa itu berakhir pada manusia.

Tan Malaka tidak mau eksplisit bilang ‘Tuhan’, tapi yang ia gunakan adalah diksi ‘Yang Maha Kuasa’, ‘Hantu’, dan ‘Dewa’, sehingga dia bisa ngeles kalau suatu saat orang sekampung Minangnya protes “ente sudah atheist, Tan?” Dengan senyum khasnya, Tan Malaka bisa dengan lihainya bilang “’kan saya nggak sebut ‘Tuhan’!

Sungguh, ateisme yang malu-malu.   

 

Comments

Popular posts from this blog

MENJILAT-JILAT MADILOG DENGAN KESUMAT: CATATAN ATAS TANGGAPAN TUAN ALFIKRI DI RUNDIANG.ID

Saat Seluruh Rakyat Senang Kemerdekaan Diproklamasikan Soekarno-Hatta, Tan Malaka Hanya Apatis