MENJILAT-JILAT MADILOG DENGAN KESUMAT: CATATAN ATAS TANGGAPAN TUAN ALFIKRI DI RUNDIANG.ID
Ferry Hidayat
Senior Researcher Kolektif Wakaf Nalar (KWN)
Terima kasih Tuan Alfikri atas tanggapan tuan. Hanya saja, di sini
saya punya sedikit catatan. Semoga catatan ini terus menjadi polemik di ruang
rundiang.id yang mencerahkan bagi pembaca semua.
Satu. Metafora yang dipakai Tuan berjumlah berpuluh-puluh: tersedak,
menelan mentah-mentah, muntah, membuat boneka jerami, membakar boneka,
mengunyah gagasan, batuk-batuk saat membaca, menidurkan kepedulian sosial. Itu
membuat artikel Tuan terasa seperti drama Korea. Saya yakin Tuan adalah penyuka
drama. Tapi penyuka drama tidak punya tempat dalam lapangan penyelidikan ilmiah,
sayangnya. Penyelidikan ilmiah hanya butuh data dan data; retorika harap enyah.
Kedua. Tuan Alfikri, dalam tulisan itu, bertindak sebagai pembetul dan
pengoreksi argumen saya. Kalau saya A, dia mengoreksi bahwa itu bukan A tapi B.
Kalau saya bilang Tan Malaka itu mengritik agama di Kongres Komunis Internasional
Ke-4 di Uni Soviet (A), dia bilang itu distorsi sejarah dan pemutihan konteks;
yang benar ialah Tan Malaka sedang membela Pan-Islamisme dan itu bukti terang
bahwa Tan Malaka punya pemikiran yang independen dibanding semua komunis yang
hadir di situ (B). Kalau saya bilang Tan Malaka itu mengritik agama karena ia
menolak kepercayaan pada akhirat sebagai ‘logika mistika’(A), dia bilang bahwa
saya keliru memahami perbedaan antara agama dan logika mistika ini; Tan Malaka
hanya menyadarkan rakyat yang dijajah Jepang dan dibikin lumpuh dengan logika
mistika ini (B). Kalau saya bilang Tan Malaka mengritik agama karena ia menolak gagasan bahwa Firman
Tuhan dapat menciptakan benda, yang ia kategorikan sebagai ‘logika mistika’
(A), dia bilang bahwa Tan Malaka sebenarnya tidak menistakan kekuasaan Tuhan;
ia hanya mengritik pasivitas, fatalisme, dan kemandekan
berpikir (B). Kalau saya bilang Tan Malaka mengritik agama karena mengkritik kepercayaan pada
kekuatan gaib (jimat, kiai kebal, berkah kiai) melalui dialog Si Pacul (A), dia
bilang bahwa saya keliru memahami Tan Malaka; Tan Malaka di situ mengritik
argumen-argumen mistik karena ia berhadapan dengan realitas historis kongkret,
yakni rakyat terlalu menggantungkan nasib kepada kegaiban, jimat, dan nasib
akhirat, daripada membangun sains, teknologi, strategi perlawanan terukur; Tan
Malaka ingin menegaskan realitas sederhana: jika bangsa ini ingin membangun
kereta api, kita membutuhkan ilmu fisika dan rekayasa mesin, bukan doa tanpa
usaha (B).
Tapi, kalau pembaca jeli, Tuan Alfikri luput mengoreksi argumen
saya bahwa Tan Malaka mengritik agama karena ia mengritik eksistensi Akhirat
dan kenikmatan ukhrawi, karena ia mengkritik pemanfaatan agama untuk memobilisasi
massa oleh organisasi yang bercorak feodalistik, karena ia mengritik gambaran
surga dalam tradisi Islam, karena ia mengritik konsep kenabian dan mukjizat. 4
kritik saya ini ia biarkan tanpa kritik. Kalau saya boleh berbaik sangka, ini
berarti ia diam-diam menerima kritikan saya ke Tan Malaka. Hehe.
Mengritik dalam ruang ilmiah harus ada bukti demonstratifnya; kalau
tidak ada maka itu hanya ndobos—itu ungkapan Jawa, tak ada dalam
idiomatika Minang. Saya mengutip langsung beberapa quote di artikel saya
dalam rangka membuktikan bahwa klaim saya mengenai Tan Malaka bukan sekedar ndobos,
tapi didukung evidens tekstual dari karya Tan Malaka sendiri. Kalau Tuan
Alfikri ingin membantahnya, disilahkan menunjukkan bukti tekstual pula,
syukur-syukur dari teks corpus Tan Malaka sendiri bahwa dia bukan A,
tapi B. Kalau tuan tidak bisa, berarti tuan bukan murid Tan Malaka tulen, sebab
Tan Malaka selalu mengutip data tekstual sebelum ia mengritik lawan diskursusnya.
Tuan berarti hanya mampu ndobos, dan maaf beribu maaf, semua orang yang
tak terpelajar lebih pintar ndobos daripada mendemontrasikan evidens.
Ketiga. Saya tersentak ketika tuan mengejek-ejek saya secara logis:
logika saya melompat, dan lompatannya begitu indah dan cukup marabo.
Juga tersentak ketika tuan mengejek metode saya sebagai metode yang
rapuh, tak diberi konteks historis, tidak bijak secara akademis, sehingga
dangkal, cherry-picking, strawman fallacy, reduksionis.
Tersentak pula saat tuan mengejek-ejek saya bahwa saya tidak pandai
membeda-bedakan antara kritik epistemologis dan kebencian terhadap
spiritualitas; tapi kok saya (tuan duga) merasa sudah memenangkan perdebatan
filosofis.
Saya cuma ingin menjawab begini: apakah Tuan sudah membaca buku
ilmiah saya yang berjudul “Tan Malaka Secret”? Itu bentuknya buku, beratus
halaman, ditulis dengan metode hermeneutika. Buku itu ditulis dengan serius;
isinya juga serius. Buku itu diberi konteks historis, lihat saja kronologi yang
disertakan di bagian paling akhir buku itu.
Dan dengan buku itu, saya tidak pernah merasa sudah memenangkan
perdebatan filosofis. Saya justru ingin bilang “perdebatan filosofisnya mana?”
Tidak ada perdebatan filosofis selama buku saya itu tidak dibalas buku. Tahafut
al-Falasifah kan dibalas Tahafut al-Tahafut, ayo balaslah buku saya
dengan buku pula, dengan metode ilmiah pula dong, apalagi Tuan Alfikri lulusan pendidikan
tinggi, pernah belajar matkul “Metode Penelitian”. Ayo, saya tantang tuan untuk
membalas buku saya dengan buku ilmiah tuan. Kalau perdebatan filosofis terjadi,
barulah nampak mana pemenang dan mana pecundang.
Saat membuat buku “Tan Malaka Secret”, saya selalu
dihinggapi rasa ketakutan bahwa saya keliru menyimpulkan; sehingga saya
terpaksa membaca karya-karya Tan Malaka berkali-kali. Saya juga tidak ingin
memfitnah Tan Malaka; itu dosa. Setelah berikhtiar dengan penuh kehati-hatian,
saya putuskan untuk mempublikasikannya untuk umum. Maka, bayangkanlah betapa
tersiksanya saya dari saat menulis hatta menerbitkannya dengan ketersiksaan
moral dan etis yang amat berat dirasa.
Buatlah, Tuan, buku yang mengritik buku saya, pakai metode ilmiah
yang baku untuk menafsirkannya, seperti hermeneutika, CDA, intensive reading,
atau apalah namanya, di kampus kita sudah diajarkan itu. Tinggal buat saja. Nanti
mahkamah pembaca yang akan memutuskan buku mana yang isinya penuh data-data
yang valid, mana yang isinya sekadar penafsiran intuitif yang tidak bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah kecuali intuisi personal saja.
Terakhir. Yang paling bikin saya tersentak ialah saat tuan mengejek-ejek bahwa
kesalehan saya hanya sebatas rutinitas dogma dan hafalan teks, tapi tidak
mencakup mewakafkan nalar dan raga untuk membela kaum lemah dan tertindas;
bahwa kesalehan saya hanya simbolik yang menidurkan kepedulian sosial; bahwa
kesalehan simbolik saya tidak berupa nalar kritis yang mengajak turun tangan
membebaskan rakyat dari kemelaratan; bahwa kesalehan saya hanya kesalehan
simbolik yang taat pada pemimpin saja, padahal ia tiranik; bahwa cara beragama
saya ringkih karena menuduh ajakan rasionalisasi sebagai “racun komunisme”.
Sejak kapan tuan bisa judging kesalehan saya? Atas dasar bukti apa? Atas
dasar evidens apa?
Agama Islam sudah lengkap. Kata Cak Nur, Islam itu “Doktrin dan
Peradaban”. Kalau saya cuma rutin sholat, hafal Quran, taat ulil amri, tapi
tidak menjalankan perintah syari’at untuk membela kaum lemah dan tertindas,
tidak peduli sosial, tidak turun tangan membebaskan rakyat dari kemelaratan,
tidak mengritik tirani rezim, dan anti-rasionalisasi, maka sungguh saya belum
Muslim sejati di mata Allah. Islam mengajarkan itu semua. Allah dan Rasulullah
mengajarkan itu semua. Tak perlu seorang Tan Malaka untuk mengingatkan hal itu,
apalagi seorang Alfikri. Tak perlu sebuah MADILOG. Tan Malaka juga tidak pernah
bikin buku Teologi Liberatif Islam, seperti Farid Esack di Afrika atau Hamid
Dabashi di AS; Tan Malaka hanya menulis Materialisme-Dialektika-Logika. Sungguh
merupakan zhulm membela Tan Malaka yang komunis dengan retorika teologis.
Tanpa membaca MADILOG pun, juga tanpa membaca artikel tuan pun, Muslim
terpelajar yang belajar aliran teologi Jabariyah, teologi Qadariyah, teologi kaum
tuo, teologi kaum mudo, teologi Mu’tazilah, teologi Asy’ariyah, teologi
NU, teologi Muhammadiyah, sudah bisa membedakan mana paham yang pasif, mana
yang dinamis, mana yang ushul, dan mana yang furu’, mana khurafat,
mana takhayul, mana arkanul iman, mana arkanul Islam. Mereka
tahu akidah Ahlussunnah mengajarkan bahwa Muslim harus berusaha dengan tangan
dan pikirannya secara dinamis (kasb), bukan dengan berpangku tangan dan
fatalis (majbur). Tak perlu baca MADILOG. Cukup baca buku-buku akidah
Ahlussunnah untuk bergerak aktif dalam isu-isu pemberdayaan. Cukup laksanakan dalam
realitas sehari-hari semua perintah Allah dan Rasulullah yang terkait
pembebasan manusia dari penindasan.
Maka, kalau Tan Malaka menasehati seorang Muslim supaya jangan
pasif, tapi bergerak, dinamis, itu mah isu basi. Itu isu teologis
klasik. Tidak orisinil. Tak perlulah MADILOG yang tuan bilang ‘padat’ itu—yang
bisa bikin orang tersedak itu, dalam metafora tuan—memberi nasehat teologis ala
Ahlussunnah itu. Konten MADILOG sudah amat padat dengan penjelasan berbusa-busa
mengenai Materialisme, Dialektika, dan Logika; tak perlulah tersedak dengan
nasehat teologis yang seremeh-temeh itu.
Yang orisinil untuk direnungi begini: kok bisa budak Minang
yang berasal dari miliu surau berakidah Ahlussunnah seperti Tan Malaka malah terbukti
secara tertulis berakidah MADILOG? Yuk dijawab di tanggapan tuan berikutnya ya.

Comments
Post a Comment