Misteri Pembahasan Agama dalam MADILOG: Mengapa Tan Malaka Membahas Agama Padahal Dia Komunis?
Ferry Hidayat
Senior Researcher Kolekif Wakaf Nalar (KWN)
Mengapa Tan Malaka membahas agama-agama dalam buku MADILOG padahal ia seorang komunis, dan seorang komunis jelas-jelas akan membenci agama? Inilah misteri yang akan diungkap di sini.
Yang harus dicermati pertama-tama ialah bahwa Tan Malaka jelas-jelas tidak mengambil langkah tegas perihal agama-agama sebagaimana Karl Marx. Karl Marx terang-terangan ateis. Dalam bukunya A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1844), Karl Marx menegaskan bahwa agama harus dikritik dan dihapuskan:
For Germany, the criticism of religion has been essentially completed, and the criticism of religion is the prerequisite of all criticism.
The profane existence of error is compromised as soon as its heavenly oratio pro aris et focis [“speech for the altars and hearths,” i.e., for God and country] has been refuted. Man, who has found only the reflection of himself in the fantastic reality of heaven, where he sought a superman, will no longer feel disposed to find the mere appearance of himself, the non-man [Unmensch], where he seeks and must seek his true reality.
The foundation of irreligious criticism is: Man makes religion, religion does not make man. Religion is, indeed, the self-consciousness and self-esteem of man who has either not yet won through to himself, or has already lost himself again. But man is no abstract being squatting outside the world. Man is the world of man – state, society. This state and this society produce religion, which is an inverted consciousness of the world, because they are an inverted world. Religion is the general theory of this world, its encyclopaedic compendium, its logic in popular form, its spiritual point d’honneur, its enthusiasm, its moral sanction, its solemn complement, and its universal basis of consolation and justification. It is the fantastic realization of the human essence since the human essence has not acquired any true reality. The struggle against religion is, therefore, indirectly the struggle against that world whose spiritual aroma is religion.
Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.
The abolition of religion as the illusory happiness of the people is the demand for their real happiness. To call on them to give up their illusions about their condition is to call on them to give up a condition that requires illusions. The criticism of religion is, therefore, in embryo, the criticism of that vale of tears of which religion is the halo.
Criticism has plucked the imaginary flowers on the chain not in order that man shall continue to bear that chain without fantasy or consolation, but so that he shall throw off the chain and pluck the living flower. The criticism of religion disillusions man, so that he will think, act, and fashion his reality like a man who has discarded his illusions and regained his senses, so that he will move around himself as his own true Sun. Religion is only the illusory Sun which revolves around man as long as he does not revolve around himself.
Terjemahan:
(Bagi Jerman, kritik terhadap agama pada dasarnya sudah selesai, dan kritik terhadap agama adalah syarat awal bagi semua kritik lainnya.
Keberadaan kesalahan di dunia nyata mulai runtuh begitu pembelaannya yang bersifat “suci” (demi Tuhan dan negara) berhasil dibantah. Manusia, yang selama ini hanya menemukan bayangan dirinya sendiri dalam khayalan tentang surga—tempat ia mencari sosok manusia super—tidak akan lagi puas dengan bayangan semu tentang dirinya, tentang manusia yang terasing dari dirinya sendiri, ketika ia mulai mencari dan harus mencari kenyataan sejatinya.
Dasar dari kritik yang tidak bersifat religius adalah ini: manusia menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia. Agama sebenarnya adalah kesadaran diri dan harga diri manusia yang belum benar-benar menemukan jati dirinya, atau yang telah kehilangan dirinya kembali. Namun manusia bukanlah makhluk abstrak yang berdiri di luar dunia. Manusia adalah dunia manusia itu sendiri—negara dan masyarakat. Negara dan masyarakat inilah yang melahirkan agama, yaitu kesadaran tentang dunia yang terbalik, karena dunia itu sendiri memang terbalik. Agama menjadi teori umum tentang dunia ini, ringkasan pengetahuan tentangnya, logika yang disajikan secara sederhana untuk orang banyak, kehormatan spiritualnya, semangatnya, pembenaran moralnya, pelengkap upacaranya, serta sumber penghiburan dan pembenaran yang bersifat umum. Agama adalah perwujudan khayalan dari hakikat manusia, karena hakikat manusia itu sendiri belum terwujud secara nyata. Maka, perjuangan melawan agama sebenarnya adalah perjuangan—secara tidak langsung— melawan dunia yang aroma spiritualnya adalah agama itu sendiri.
Penderitaan beragama sekaligus merupakan ungkapan penderitaan nyata dan juga protes terhadap penderitaan nyata. Agama adalah keluhan makhluk yang tertindas, hati dari dunia yang tidak berhati nurani, dan jiwa dari keadaan hidup yang tidak berjiwa. Agama adalah candu bagi rakyat—ia menenangkan rasa sakit, tetapi tidak menyembuhkan penyebabnya.
Menghapus agama sebagai kebahagiaan semu rakyat berarti menuntut kebahagiaan mereka yang nyata. Mengajak manusia meninggalkan ilusi tentang keadaan hidupnya berarti mengajak mereka meninggalkan keadaan yang membutuhkan ilusi tersebut. Karena itu, kritik terhadap agama pada dasarnya adalah awal dari kritik terhadap dunia penuh penderitaan, yang agamalah cahayanya. Kritik telah mencabut bunga-bunga khayalan dari rantai, bukan agar manusia terus memikul rantai itu tanpa khayalan atau penghiburan, melainkan agar ia membuang rantai tersebut dan memetik bunga yang hidup dan nyata. Kritik terhadap agama membangunkan manusia dari ilusinya, agar ia berpikir, bertindak, dan membentuk kenyataan hidupnya sebagai manusia yang sadar, yang telah meninggalkan khayalan dan kembali pada akal sehatnya. Dengan begitu, manusia bergerak mengelilingi dirinya sendiri sebagai pusat sejatinya. Agama hanyalah matahari khayalan yang mengitari manusia selama manusia belum menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat hidupnya.)
Dalam Kongres Ke-6 Komunis Internasional tahun 1929 (baca The Programme of the Communist International, Comintern Sixth Congress 1929) bahkan diputuskan terang-terangan bahwa seluruh partai komunis sedunia wajib melawan agama dan wajib membuat propaganda anti-agama:
One of the most important tasks of the cultural revolution affecting the wide masses, is the task of systematically and unswervingly combatting religion—the opium of the people. The proletarian government must withdraw all State support from the Church, which is the agency of the former ruling class; it must prevent all church interference in State-organised educational affairs, and ruthlessly suppress the counter-revolutionary activity of the ecclesiastical organisations. At the same time, the proletarian State, while granting liberty of worship and abolishing the privileged position of the formerly dominant religion, carries on antireligious propaganda with all the means at its command and reconstructs the whole of its educational work, on the basis of scientific materialism.
Terjemahan:
(Salah satu tugas terpenting dari revolusi kebudayaan yang menyentuh massa rakyat luas adalah melawan agama secara terencana dan tanpa ragu—agama yang dianggap sebagai candu bagi rakyat. Pemerintahan kaum buruh harus menarik seluruh dukungan negara dari gereja, yang dipandang sebagai alat kelas penguasa lama. Pemerintah harus mencegah segala campur tangan gereja dalam urusan pendidikan yang diselenggarakan oleh negara, serta menindak tegas aktivitas organisasi keagamaan yang dianggap bersifat kontra-revolusioner. Pada saat yang sama, negara proletar tetap memberikan kebebasan beribadah dan menghapus kedudukan istimewa agama yang sebelumnya dominan. Namun, negara juga secara aktif melakukan propaganda anti-agama dengan semua sarana yang dimilikinya dan membangun ulang seluruh sistem pendidikan berdasarkan materialisme ilmiah.).
Tapi, Tan Malaka kok masih juga membahas agama. Mengapa, ya? Jawabannya terdapat dalam kata-katanya di MADILOG sebagai berikut:
Sejarah Islam berurat dan diairi oleh masyarakat Politik, Ekonomi dan Pesawat Arab asli… Bagaimana juga buku seperti “Foundation of Christianity” buat agama Islam masih belum lahir (hal. 314).
Di situ, Tan Malaka menyatakan niatnya untuk mengkaji Islam dengan pendekatan materialisme historis dan dialektika khas kaum komunis, sebagaimana Karl Kautsky, tokoh komunis Uni Soviet, yang mengkaji agama Kristen dengan pendekatan materialisme dialektis, dalam bukunya berjudul The Foundations of Christianity (1908). Rupanya Tan Malaka tertarik juga menulis risalah mengenai agama-agama dari sudut pandang komunis seperti yang telah dilakukan Karl Kautsky di Uni Soviet.
Karl Kautsky tidak mau langsung tegas mengritik agama, membasmi agama, dan menghapus agama, sebagaimana Karl Marx. Ia memakai soft approach; ia memberi ‘kacamata’ untuk memandang agama. Harapannya, dengan ‘kacamata’ itu, kaum buruh komunis bisa memandang agama ala komunis-Marxist.
Karl Kautsky tahu bahwa menghapus agama itu sulit. Tidak bisa secara frontal; tapi secara perlahan-lahan dan secara halus. Evolusioner, bukan revolusioner.
Maka, Kautsky pun menulis buku The Foundations of Christianity (Dasar-Dasar Kekristenan) untuk kaum buruh komunis. Tujuannya ialah agar kaum buruh komunis:
… understanding of those aspects of Christianity that seem… to be the decisive ones from the point of view of the materialistic conception of history… in an age when the present takes up all the attention of any man who takes part in modern class struggles… intensive involvement in the class struggle of the proletariat… made it possible for me to get insights into the essence of primitive Christianity.
Terjemahan:
(… memahami aspek-aspek Kekristenan yang nampaknya… sangat penting dari sudut pandang konsepsi sejarah materialistik… di zaman ketika perhatian manusia tersedot untuk berpartisipasi dalam perjuangan kelas… keterlibatan intens dalam perjuangan kelas kaum proletar… memungkinkan saya menemukan data-data mengenai hakikat Kekristenan di era permulaan historisnya.)
Dengan buku Foundations of Christianity itu, Kautsky ingin mengajari kaum buruh komunis bagaimana aspek-aspek Kekristenan di era permulaan historisnya dapat dipahami lewat pendekatan materialisme-historis dan dialektika Marxist, sehingga mereka yakin bahwa Kekristenan yang mereka anut bisa dipakai untuk memenangkan perjuangan kelas proletar melawan kaum borjuis. Inilah metode menghapus agama secara perlahan-lahan
Tan Malaka ingin meniru Karl Kautsky; menghapus agama secara perlahan-lahan; maka, ia pun menulis MADILOG.
Tan Malaka ingin mengajari kaum buruh komunis Indonesia bagaimana aspek-aspek agama dalam perjalanan historisnya dapat dipahami lewat pendekatan materialisme-historis dan dialektika Marxist, sehingga mereka yakin bahwa agama-agama yang mereka anut bisa dipakai untuk memenangkan perjuangan kelas proletar melawan kaum borjuis. Inilah cara soft menghapus agama. Tan Malaka menulis:
‘Madilog’ ialah cara berpikir, yang berdasarkan Materialisme, Dialektika dan Logika buat mencari akibat, yang berdiri atas bukti yang cukup banyaknya dan tujuan diperalamkan dan diperamati.
Madilog bukanlah barang yang baru dan bukanlah buah pikiran saya. Madilog ialah pusaka yang saya terima dari Barat…(hal. 162)
Madilog tak bisa berlaku langsung atas kepercayaan, karena kepercayaan itu kekurangan alat melangkah, ialah matter (benda). Tetapi dengan jalan memutar, tak langung, Madilog bisa menerangkan kepercayaan itu ialah sebagai obor listrik yang berdiri diluar, yang tiada memasuki barang itu di seluruhnya. Dengan jalan tak langsung ini Madilog akan memberi keterangan atas:
1. Kepercayaan Indonesia Asli.
2. Kepercayaan Hindustan (Asia Tengah).
3. Kepercayaan Asia Barat.
4. Kepercayaan (sepintas lalu saja) Tiongkok (hal. 241).
Yang saya maksud dengan kepercayaan Asia Barat ini ialah agama Yahudi, Kristen atau Nasrani, dan Agama Islam (hal. 291).
Di situ Tan Malaka menjelaskan bahwa MADILOG (Materialisme-Dialektika-Logika) sengaja digunakan sebagai ‘obor’ untuk memahami agama-agama, meski harus menempuh “jalan memutar, tak langsung”.
Memang terkesan amat ambisius. Kautsky menulis berates-ratus halaman hanya fokus pada satu agama (Kekristenan), sementara Tan Malaka membahas 6 (enam) agama hanya dalam 86 halaman MADILOG saja (hal. 241-327). Akibatnya, tidak dalam dan tidak komprehensif, tentunya.
Format penulisan MADILOG berbeda dari format penulisan Foundations of Christianity-nya Kautsky. Kautsky tidak mendedah apa itu Materialisme Historis dan apa itu Dialektika sebagai pendahuluan bukunya, tapi ia langsung mendedah apa itu the Person of Jesus (Book One), lalu apa itu Society in the Roman Empire (Book Two), apa itu Jews (Book Three), dan mendedah apa itu The Beginnings of Christianity (Book Four).
Sedangkan Tan Malaka menjelaskan lebih dulu apa itu Materialisme (hal. 4-103), lalu ia mendedah apa itu Dialektika (hal. 104-161), lalu Logika (hal. 162-240), setelah itu barulah Tan Malaka mengaplikasikan Materialisme, Dialektika, dan Logika (MADILOG) yang ia jelaskan sebelumnya untuk memahami agama-agama (Peninjauan dengan Madilog, hal. 241-327).
Jika agama-agama ditinjau dengan kacamata MADILOG, maka agama-agama itu dipahami seperti apa, ya?
Dalam agama masyarakat primitif di Indonesia, berlakulah hukum dialektika. Animisme dipahami Tan Malaka sebagai tesis, lalu animisme ditentang oleh kepercayaan Hantu Pemburu sebagai Maha-Hantu (antitesis). Antitesis ini kelak ditentang oleh kepercayaan Dewa-Dewi Baik yang memberi manfaat kepada manusia (sintesis). Kata Tan Malaka:
… kita mengandaikan berada di tengah-tengah hutan rimba Sumatera, Kalimantan, atau Irian!...
betapa dahsyatnya suasana hutan rimba yang sesungguhnya itu menekan jiwa kita. Pohon yang besar tinggi menjulang ke angkasa; cuaca yang selalu gelap-gulita karena sang matahari tak sanggup menembus dinding daun kayu yang rindang itu; suara hewan yang mempengaruhi jiwa kita; kecurigaan kepada semua semak dan belukar, karena mungkin menyembunyikan binatang buas atau berbisa, semua itu menimbulkan perasaan kecil, hina tak berdaya sebagai manusia menghadapi kebesaran dan kedahsyatan alam.
Bagi manusia yang sejak awal berpikir, yang sejak awal sekali mencerminkan alam-luar itu kepada alam-dalamnya, kepada jiwanya, cocok benarlah paham bahwa tekanan atas jiwa dalam dirinya disebabkan olah jiwa yang berada di Alam-Luar, yakni yang berada dalam hutan rimba raya itu. Buat pikiran orang serba sederhana itu jiwa cuma bisa dipatahkan karena ditimpa oleh pohon besar. Demikianlah di mata orang sederhana itu, semua benda yang dahsyat di sekitarnya dianggap mengandung jiwa seperti dirinya sendiri. Pohon besar yang rindang dahsyat, air mancur yang bergemuruh; binatang buas yang berbahaya; bahkan batu dan kayu pun dianggapnya berjiwa, bernyawa.
Teranglah sudah bahwa zaman serba permulaan itu pandangan bangsa Indonesia, dalam keadaan serba-serbi itu pula, berdasarkan paham yang oleh para ahli dinamai kepercayaan animisme. Semua yang ada di alam ini dianggapnya berjiwa, bernyawa. Berkenaan dengan manusia sederhana bangsa kita tadi dengan alamnya di mana manusia itu berlaku pasif, menerima, bahkan menderita ketakutan saja, di masa inipun berlakulah hukum dialektika,…
Dalam pencarian hidupnya sehari-hari menghadapi pelbagai bahaya di hutan, di gunung, di air dan menderita bermacam-macam penyakit, lama kelamaan tahu-tahu tertumpahlah segala pengorbanan dan pemujaan kepada salah satu yang paling ditakuti di antara banyak-yang-ditakuti. Di antara macan, buaya, hantu pohon, hantu air, atau hantu pemburu, akhirnya jatuhlah Maha-Pujaan kepada Maha-Hantu, yang paling penting-cocok dengan penghidupan dan pengalaman sehari-hari. Dimana pencarian dan pekerjaan berburu sangat dipentingkan, maka hantu pemburulah yang sangat dipuja. Di sinilah hantu-pemburu akhirnya mendapat kehormatan sebagai Maha-Hantu.
Dimana pergaulan sudah agak maju, dan alam sekitar sudah agak ramah-tamah, maka yang baik mendapat perhatian agak lebih dari yang jahat. Konon kabarnya ada satu suku bangsa Irian yang menganggap pohon aren atau enau sebagai Tuhan dalam arti Maha-Dewa. Bukankah pohon aren juga antara segala pohon dan segala yang ada di alam sekitar mereka yang telah memberikan segala-galanya yang diperlukan buat kehidupan mereka? Sagu dari pohon aren adalah makanan yang sehat dan mengandung banyak kegunaan. Ijuknya dapat dipakai buat atap rumah. Batangnya bisa juga dipakai sebagai tombak penangkap ikan dan alat membela diri terhadap musuh…
Sederhana, Dewi Sagu menjunjung segala kemegahannya ke angkasa sambil memberi bahagia kepada makhluk manusia di sekelilingnya.” (Pandangan Hidup, hal. 2-4).
Hukum Dialektika juga berlaku pada agama Hindu. Tesisnya agama Hindu terjadi di zaman Kitab Veda, lalu tesis ini ditentang oleh munculnya Buddhisme, Jainisme, dan Materialisme (antitesis). Antitesis ini kelak ditentang lagi sehingga menghasilkan kompromi (sintesis). Kata Tan Malaka:
Kita bagi sejarahnya filsafat Hindustan … atas tiga bagian,… Pembagian itu ialah:
1. Vedic Period (Zaman Kitab Veda) dari lk th 1500-600 sebelum Nabi Isa.
2. Epic Period (Zaman Dongeng) dari lk 600 sebelum sampai 200 sesudah Nabi Isa.
3. The Period of the Six System (Zaman 6 Tata) dari th 200 sesudah Nabi Isa.
Pada penghabisan masa tingkat pertama itu, kita berjumpa dengan beberapa isme, yang menantang masa pertama itu, Zaman Veda, yaitu Buddhisme, Jainism dan Materialism. Jadi, masa kedua, ialah masa dongeng, menyaksikan pertentangan "lsafat atau kepercayaan: Kepercayaan Veda terhadap Buddhism dll tadi.
Sebagai hasil pertarungan itu kita jumpai perdamaian (compromis) antara paham pada masa Veda dan paham pada masa dongeng, terutama Buddhism. Disini nyata saya lihat aliran Dialektika: thesis, anti-thesis dan sinthesis…(MADILOG, hal. 265).
Hukum Dialektika juga berlaku pada agama-agama di Asia Barat, yakni agama Yudaisme (Yahudi), agama Nasrani, dan agama Islam. Tesisnya agama-agama Asia Barat ialah agama Yudaisme yang dibawa Nabi Musa, yang mempercayai Tuhan yang Maha Esa (monotheisme), lalu tesis ini ditentang oleh munculnya agama Nasrani yang dibawa Nabi Isa, yang mempercayai Tuhan itu esa tapi memiliki tiga unsur atau Trinitas (antitesis). Antitesis ini kelak ditentang lagi sehingga memunculkan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad, yang mengembalikan monoteisme ke tingkat yang lebih sempurna. Kata Tan Malaka:
Dengan bangsa Arab, maka selesailah sudah circle edaran dialektika! Dengan Nabi Musa majulah ke depan "filsafat ketuhanan 1=1 sebagai tesis. Setelah Nabi Isa, maka timbullah tentangan berupa 3=1, sebagai anti-tesis. Dengan Nabi Muhammad terbentuklah sintesis, yakni kembalinya "filsafat 1=1 dengan lebih sempurna dan lebih kaya isinya daripada semula. (Pandangan Hidup, hal. 14).
Terakhir, berdasarkan hukum dialektika yang berlaku pada agama-agama, Tan Malaka percaya bahwa semua agama yang didakwahkan oleh semua Nabi sedunia (tesis) akan digantikan oleh paham agama kaum kapitalist sedunia (antitesis); dan paham itu kelak akan ditentang lagi oleh kaum proletar sedunia yang ateis saat masyarakat komunis global berhasil dibentuk oleh kaum proletar sedunia (sintesis). Pada bab yang berjudul “Taman Manusia” dalam buku MADILOG, Tan Malaka menjelaskan proses dialektika tersebut secara amat puitis, sehingga tidak terlalu kentara kecuali dengan ketelitian yang penuh kehati-hatian. Tan Malaka menggambarkan proses dialektika itu seperti berjalan-jalan di sebuah taman (“Taman Manusia”) yang didalamnya terdapat patung patung manusia agung. Ada patung-patung para Nabi pemuka agama-agama sedunia, ada patung-patung filosof borjuis, ada patung-patung filosof sosialis, dan ada patung-patung filosof komunis. Keluar dari taman itu, orang-orang akan bertemu dengan seorang Maha Guru; yakni guru yang mengajarkan Tan Malaka bahwa Tuhan akhirnya menghilang dan berganti wujud sebagai masyarakat komunis. Kata Tan Malaka:
Akhirnya…, walaupun sudah lelah sampai juga ke puncak bukit. Jauh kelihatan sinar yang terlantun dari patungnya para Nabi. Pada dataran yang sama tinggi didapati patung para pembentuk masyarakat baru.
… Diakui jasanya pemikir borjuis seperti Rousseau, Voltaire dan Montesque di masa revolusi borjuis utopis seperti Saint Simon, Fourier dan Robert Owen, pemimpin seperti Roberspierre, Danton dan Blanqui. Sosialist seperti Lassalle, Hilferding dan Kautsky. Bapak sosialisme ialah Karl Marx dan Engels, serta pengikut besarnya seperti Lenin, Trotsky, Rosa Luxemburg, dan lain lainnya…
Seorang pemuda sedang memanjat hendak mencium mukanya Marx dan memeluk Engels,… Disekitarnya patung Lenin kita melihat seekor pelanduk yang sedang bermain-main dengan pemuda dan pemudi yang kebetulan hari ini datang bertamasya…
Hewan dan bunga-bungaan serta Sang Burung mengelilingi para pemikir dan pahlawan Masyarakat Baru ini, yang terpilih dari seluruh dunia. Warnanya semua mahluk dan tumbuhan disini menyegarkan mata kami kembali. Nyanyi burung seolah-olah mengangkat diri ke angkasa. Pemandangan jauh sayup kalau disertai perkakas teropong, menyaksikan ke cakrawala lautan yang selalu diliputi awan! Kesanalah jalan yang akan ditempuh oleh kepulauan Indonesia menuju kesemua penjuru alam untuk bekerja bersama-sama dengan semua Negara dan semua bangsa dimuka bumi ini, buat mengadakan masyarakat baru atas: Kemerdekaan, Kemakmuran dan Persamaan sejati.
Meninggalkan Taman Manusia ini tiada dibolehkan melalui Pintu Gerbang Masuk,… Kita keluar melalui pintu besar yang lain.
Dimuka pintu keluar kami berjumpa dan bercakap-cakap sebentar dengan bekas Maha Guru dari Sekolah Tinggi Negara. Tiadalah bisa kami lupakan isi perkataannya bekas Maha Guru yang masyhur itu.
Arti katanya: “Dari masa sekarang tak ada lagi perbuatan Yang Baik atau Yang Buruk dari seseorang, yang tak akan dikenal dan diperingati oleh masyarakat buat selama-lamanya. Dengan begitu artinya fana dan baka, surga dan neraka, dijasmani dan rohanilah, dibentuk oleh Taman Manusia ini”…
Ada kalanya semua pengetahuan didasarkan dan diasalkan pada sesuatu yang berpikiran dan berperasaan dan berkemauan seperti kita manusia. Gurun dan hujan umpamanya diasal dan didasarkan pada Hantu dan Dewa, yang bersifat kemanusiaan. Tetapi sekarang tak ada lagi para terpelajar yang mengendaki Hantu dan Dewa itu sebagai dasar dan asal. Cukuplah sudah buat otak kita hukum alam sebagai asal dan dasar.
Demikianlah juga pada kalanya, manusia dan moralnya diasal dan diakhirkan pada sesuatu, pada Yang Maha Kuasa, yang dalam hakekatnya juga mengandung sifat kemanusiaan. Tetapi dari masa sekarang sudahlah cukup buat otak dan hati kita, kalau manusia dan moralnya itu diasal dan diakhirkan pada masyarakat dan hukumnya masyarakat itu sendiri. Buruk dan baik itu, ialah buruk dan baik buat masyarakat itu sendiri. Asalnya masyarakat itu sendiri, dari pergaulan antara manusia dan manusia dalam masyarakat itu sendiri. Perbuatan yang baik mendatangkan akibat yang baik.
Perbuatan yang buruk menimbulkan akibat yang buruk pula buat masyarakat itu sendiri. Contoh ini boleh diambil dari segala bangsa dan sejarahnya segala bangsa, dan sejarahnya segala bangsa itu dibumi ini. Hukum buruk dan baik, boleh dipetik dan dibentuk dari sejarahnya segala bangsa dan Negara yang dulu dan sekarang.
Dengan begitu manusia dan moralnya sudah berdasarkan Bukti, sudah nyata dan peralaman, dan bisa berdiri atas kakinya sendiri. dan kakinya itu berada dalam masyarakat Manusia serta moralnya. Tak perlu lagi Hantu atau Dewa sebagai awal dan akhirnya manusia dan moralnya. Malah Hantu dan Dewa itu menemui akhirnya pada manusia dan moralnya yang nyata, yang berdasarkan masyarakat (MADILOG, hal. 387-388).
Dialektika agama-agama berakhir saat masyarakat komunis sudah terwujud; saat itu, agama-agama sudah terhapus dan terbasmi dari muka bumi.
Jadi, pembahasan agama-agama dilakukan Tan Malaka agar agama-agama perlahan-lahan terhapus.
Comments
Post a Comment