Untungnya, Republik Cuma Stop Di Gagasan, Andai Berhasil Diwujudkan Tan Malaka, Maka Republik Ini Jadi Republik Soviet Diktatoriat Deh!

Ferry Hidayat

Senior Researcher Kolektif Wakaf Nalar (KWN)

Kalau dipikir-pikir pakai akal sehat, ada untungnya juga buku Naar de Republik Indonesie (Menuju Republik Indonesia) cuma hanya sebatas ide dari seorang Tan Malaka. Bayangkan jika ide itu berhasil diwujudkan Tan Malaka dan partai komunisnya; bisa-bisa republik kita yang tercinta ini jadi republik transisional saja—republik yang dibangun untuk sementara saja, karena ia nanti akan diubah lagi sama kaum buruh komunis jadi proletariat dictatorship yang berbentuk soviet-soviet. Lalu,—ketika ‘diktator MURBA sudah berdiri tegak dan segala residu-residu kapitalis-borjuis hilang dimusnahkan kaum buruh komunis,—maka proletariat dictatorship itu akan diganti lagi oleh kaum buruh komunis jadi masyarakat tanpa-negara (clashless society), di mana ‘Surga di Bumi’ terwujud. Gimana dong nasib orang selain kaum buruh komunis saat republik ala Tan Malaka yang ia gagas di buku Naar de Republik itu terwujud? Bisa dipastikan: nasibnya naaslah, atau sial, atau mampus, atau you name it. Ah, masa iya??????

Yuk, kita bahas seperti apa sih ‘republik’ yang didamba-damba Tan Malaka sebelum Indonesia merdeka itu.

Ada empat hal yang dibahas dalam bukunya Naar de Republik: (1) republik sebagai program politik Partai Komunis Hindia; (2) Daerah-daerah di lembah Bengawan Solo (yakni Yogya, Solo, Madiun, Kediri, dan Surabaya) sebagai basis ideal bagi Republik Indonesia; (3) asal-mula republik berdiri di Perancis; dan (4) kondisi ideal yang akan terjadi jika republik sudah berdiri di negeri Indonesia.

Pertama-tama, Tan Malaka menjelaskan bahwa pendirian republik adalah termasuk program politik dari partainya. Di halaman 14 buku Naar de Republik, Tan Malaka menjelaskan bahwa republik yang ingin didirikan oleh partai komunisnya adalah republik federasi dari pelbagai pulau-pulau di Indonesia. Pulau Jawa membuat pemerintahan federal; Pulau Sumatera mendirikan pemerintahan federal; Pulau Kalimantan mendirikan pemerintahan federal, dst. Semua pemerintahan federal di semua pulau di Indonesia menghimpun diri dalam satu republik federasi. Tulis Tan Malaka:

PROGRAM NASIONAL PKI… 

B. POLITIK.

1. Kemerdekaan Indonesia dengan segera dan tak terbatas.

2. Membentuk republik federasi dari pelbagai pulau-pulau Indonesia.

3. Segera memanggil rapat nasional dan yang mewakili semua rakyat dan agama di Indonesia.

4. Segera memberi hak politik sepenuhnya kepada penduduk Indonesia baik laki-laki maupun wanita.

Kedua, Tan Malaka menjelaskan di dalam Naar de Republik Indonesie bahwa daerah-daerah di lembah Bengawan Solo (yakni Yogya, Solo, Madiun, Kediri, dan Surabaya) adalah basis ideal bagi Republik Indonesia. Menurut Tan Malaka, daerah-daerah di lembah Bengawan Solo adalah lokasi amat strategis untuk pusat pemerintahan karena di situ terdapat “pusat ekonomidimana terletak bertimbun-timbun industri-industri, perusahaan-perusahaan, badan-badan angkutan lalu lintas dan bank-bankbertimbun-timbun buruh industri dan petani melarat, yang akan mewujudkan tenaga-tenaga, bukan saja untuk perampasan, akan tetapi juga sebagai syarat teknis dan ekonomi mempertahankan perampasan itu.” (hal. 22-23).

Daerah-daerah di lembah Bengawan Solo ini adalah target inti penyerangan tentara rakyat untuk mengalahkan tentara imperialis Belanda. Bila daerahdaerah itu berhasil direbut, maka kekuatan imperialis Belanda akan melemah dan akhirnya takluk. Kata Tan Malaka:

 

… Batavia, maupun Priangan sesungguhnya tidak mempunyai pusat ekonomi. Kita mendapatkan itu terutama di lembah Bengawan Solo (Yogya, Solo, Madiun, Kediri, dan Surabaya) dimana terletak bertimbun-timbun industri industri, perusahaan perusahaan, badan badan angkutan lalu lintas dan bank-bank. Dimana suatu offensif revolusioner yang telah disiapsiagakan akan mendapat sukses sebanyak-banyaknya. Jika kekuatan militer, politik dan ekonomi dipusatkan pada suatu kota sebagaimana sering terjadi di negerinegeri Eropa, maka menjadi kewajiban kita memasukkan kota-kota itu lebih dulu dan rencana organisasi revolusioner ktia, untuk nanti serangan revolusioner pertama-tama dilancarkan. Jika kita di sana mendapatkan sukses, maka sukses di bagian-bagian negara lainnya sedikit atau banyak akan terjadi dengan sendirinya. 
Akan tetapi karena kekuasaan imperialis Belanda terbagi dalam pelbagai pusat, sesuai dengan itu kita harus juga membagi kekuatan revolusioner kita, untuk nanti kita kerahkan pasukan induk kita ke sana, di mana sukses sebanyak-banyaknya dapat tercapai. 
Jika kita pelajari tempat mana yang sangat menguntungkan bagi kita untuk digempur, maka pilihan kita akan jatuh pada lembah Bengawan solo. Memang di sini kita mempunyai harapan lebih besar dapat merampas kekuasaan ekonomi dan politik dan bertahan daripada di Batavia dan di Priangan. Di lembah Bengawan solo bertimbun-timbun buruh industri dan petani melarat, yang akan mewujudkan tenaga tenaga, bukan saja untuk perampasan, akan tetapi juga sebagai syarat teknis dan ekonomi mempertahankan perampasan itu.

Ketiga, Tan Malaka menjelaskan bagaimana asal-mula republik berdiri di Perancis (hal. 32). Menurut Tan Malaka, republik berhasil didirikan oleh negeri Perancis melalui beberapa tahap historis: (1) tahap feodal, di mana “Bangsawan-bangsawan Prancis didahului oleh rajanya yang boros dan permasuri yang lebih boros, melangsungkan cara hidupnya yang sangat mewah; (2) tahap borjuis, di mana borjuis berpadu dengan kaum tani dan kaum buruh, “menggabungkan diri menjadi satu dan menuntut perubahan-perubahan politik yang radikal; (3) tahap republik, di mana Raja Perancis memanggil wakil-wakil rakyat yang tergabung dalam “Majelis Permusyawaratan Nasional” untuk berkumpul memutuskan keputusan penting demi menghentikan perlawanan kaum borjuis, petani, dan buruh. “Dari Majelis Permusyawaratan Nasional lahirlah kemerdekaan Prancis dan cita-cita republik.

Terakhir, Tan Malaka menjelaskan kondisi ideal apakah yang akan terjadi jika republik sudah berdiri di negeri Indonesia (hal. 37). Jika kemerdekaan berhasil diraih rakyat Indonesia, maka kondisi kebudayaan Indonesia akan berkembang pesat, kondisi ekonomis akan lebih baik, kondisi saintifik juga akan berkembang pesat, angka literasi masyarakat Indonesia maju pesat, pengembangan kesenian nasional pun kian maju, kondisi spiritual menjadi aktif, kegaiban kian hilang, aparatur negara kian ramah dengan rakyat, dan komunisme internasional yang dikomandoi Komunisme Internasional di Moskow akan berhasil mewujudkan tata dunia komunisme global. Kata Tan Malaka:

Dalam suasana Republik Indonesia merdeka, tenaga-tenaga intelek dan sosial akan berkembang lebih cepat dan lebih baik. Kekayaan yang maha besar yang diperoleh dengan pekerjaan Indonesia akan tinggal di negeri sendiri. Ilmu pengetahuan yang dikendalikan dan diperkosa yang sekarang dipergunakan untuk keuntungan lintah-lintah darat Belanda, nanti akan dapat berkembang dan akan dapat dipergunakan bagi kepentingan masyarakat Indonesia. Kesenian dan perpustakaan akan baru mendapatkan tanah untuk bertumbuh. Lebih pasti dan lebih cepat Indonesia akan bangkit di lapangan ekonomi, sosial, intelek dan kebudayaan. Akan lampau adanya abad-abad kelaparan dan penderitaan, perbudakan dan keparia-an (kasta yang paling terhina di India) yang gelap. Akan lampau adanya abad-abad dimana berlangsung adanya hak yang tak tentu dan tak adanya hak bagi passivitas-passivitas rohani, kepalsuan dan kegelapan. Akan lampau adanya abad-abad yang mengerikan karena ketakutan akan kelaparan, penyakit menular dan ketakutan menghadapi penarik pajak, polisi dan penjara. Akan lampau adanya perbudakan dan pemerasan satu bangsa oleh bangsa lainnya, dan satu manusia oleh masa lainnya. 
Dan jaman baru menyingsing, di mana obor komunis selanjutnya akan membimbing rakyat Indonesia yang muda ke arah tujuan yang paling akhir : KEMERDEKAAN, KEBUDAYAAN DAN KEBAHAGIAAN BAGI SEMUA RAKYAT DI DUNIA.”

Jika kemerdekaan dari kapitalisme Belanda berhasil diraih, dan republik federal dari semua pulau di Indonesia telah terwujud, maka perjuangan selanjutnya difokuskan pada pendirian soviet-soviet (dewan-dewan rakyat). Dalam bukunya Parlemen atau Soviet, Tan Malaka menjelaskan mengenai soviet:

Zaman antara kapitalisme dan sosialisme. Disini diadakan Soviet, yakni buahnya pergerakan Rakyat dan gambarnya kekuasaan Rakyat, untuk mendatangkan Sosialisme.” (hal. 99). 

Soviet (dewan rakyat) didirikan di tingkat desa. Anggota-anggota soviet terdiri dari penduduk desa yang memiliki hak pilih. Saat diperlukan, ketua soviet seluruh desa berkumpul di soviet tingkat kota dalam suatu kongres soviet. Hasil keputusan kongres soviet di tingkat kota akan dibawa oleh ketua soviet desa untuk menjadi pedoman pergerakan seluruh anggota soviet desa. Sedangkan ketua soviet tingkat kota berkumpul secara berkala dengan ketua-ketua soviet kota lainnya dalam suatu kongres negeri soviet tingkat ibukota. Hasil kongres negeri ini dibawa oleh setiap ketua soviet kota untuk dijadikan pedoman pergerakan. Kata Tan Malaka:

Sekarang tiap-tiap desa haruslah mengadakan Soviet sendiri. Anggotanya dipilih oleh desa itu dengan ”hak pilihan” yang cukup. Anggota-anggota itu sering-sering dikirim ke kota untuk membicarakan ini itu. Umpamanya berapa ia harus mengadakan gandum, supaya kelebihan gandumnya itu boleh ditukarkan dengan barang-barang pabrik (barang-barang besi, minyak tanah, kertas dan sebagainya). Di kota bolehlah ia bertemu dengan wakilwakil desa lain, dan wakil-wakil buruh kota itu sendiri. Pendeknya wakil-wakil desa A, B, dan C seringkali datang menghadiri Kongres di Kota D.... Kembali dari Kongres ia menceritakan pendapatnya pada kaum tani di desanya, dan sesudahnya ”vergadering Desa” ia turut campur kerja bertani dan campur bergaul-gaul seperti orang bersaudara. Di kota pun sendiri sering-sering diadakan kongres untuk kaum buruh pabrik atau spoor pada seluruh kota itu. Perkara wakil-wakil adalah seperti dalam Kongres juga dan sesudah Kongres, maka kaum buruh tadi kembali di pabrik dan sebagainya. Oleh karena satu daerah (distrik) berbeda keperluan dan hasilnya dengan daerah lain dan juga untuk mempersatukan seluruh negeri, maka perlu diadakan kongres negeri pada ibu kota. Di sana berkumpul wakil-wakil dari segala kota-kota. Di sana dibicarakan pertukaran hasil suatu kota dengan kota yang lain, di sana dibicarakan politik umum.” (hal. 76-77).

Akan tetapi, menurut pandangan komunis Tan Malaka, berdirinya soviet-soviet bukanlah tujuan akhir dari politik partai komunis; itu hanya tujuan transisional sebelum masyarakat tanpa-kelas (classless society) terwujud. Partai komunis memperjuangkan terwujudnya masyarakat komunis dalam tiga tahap.

Pertama-tama adalah tahap “membangun lembaga lembaga, yang bersifat Komunisme, yang tidak bisa dimasuki oleh pengaruhnya Kapitalismeyakni serikat buruh dan organisasi politik.” (hal. 71).

Jika serikat buruh dan organisasi politik yang didirikan partai komunis berhasil menguasai pemerintahan, maka partai komunis bergerak menuju tahap berikutnya, yakni tahap “Diktatornya kaum Proletar.” Di tahap ini, kaum proletar mendirikan soviet-soviet di tingkat desa, tingkat kota, tingkat ibukota, lalu di tingkat negeri (hal. 72).

Jika soviet-soviet telah berhasil dijalankan dengan baik, maka tibalah saatnya menuju ke tahap terakhir, yakni mewujudkan masyarakat komunisme, “dimana tiap-tiap orang kerja sekuatnya dan mendapat hasil dengan secukupnya.” (hal. 80-86).

Dari data di atas, disimpulkan bahwa republik yang ingin dibangun Tan Malaka bukanlah republik bhinneka tunggal ika—apalagi republik ala NKRI seperti yang kita nikmati saat ini, melainkan republik ala komunis, di mana pembentukan republik di Indonesia hanyalah langkah menuju realisasi soviet dan kediktatoran proletar.

Dengan demikian, seluruh pandangannya tentang kemerdekaan merupakan bagian organik dari proyek revolusi komunis global yang ia perjuangkan sepanjang hidupnya. Pendirian Republik Indonesia hanyalah langkah awal agar soviet dan kediktatoran proletar bisa diwujudkan di Indonesia. Artinya, gagasan soviet bukan sekadar impian politik abstrak, tetapi tujuan nyata yang secara eksplisit diproyeksikan Tan Malaka untuk masa depan Indonesia. Ia membayangkan bahwa setelah penjajahan asing diakhiri, perjuangan berikutnya adalah membebaskan rakyat dari penjajahan kapital domestik dan asing melalui kekuasaan soviet. Pendirian soviet yang didiktekan kaum buruh komunis adalah sarana menuju masyarakat tanpa-kelas (classless society) atau ‘Surga di Bumi’.

Untung saja ide republik yang digagas Tan Malaka dalam Naar de Republik hanya sebatas ide dan gagasan yang tak berwujud di sini. Alhamdulillah. Tugas kita senantiasa menjaga agar republik NKRI kita saat ini tidak berubah jadi republik ala Tan Malaka dalam buku Naar de Republik itu, yakni republik transisional yang mengantar kaum buruh komunis untuk hidup di ‘Surga di Bumi’—selain mereka, ya mati aja ke Neraka! 

Kata orang Pekalongan: “Uasseeeem!

 

Comments

Popular posts from this blog

MENJILAT-JILAT MADILOG DENGAN KESUMAT: CATATAN ATAS TANGGAPAN TUAN ALFIKRI DI RUNDIANG.ID

Menyingkap Misteri Paragraf Terakhir Buku MADILOG

Saat Seluruh Rakyat Senang Kemerdekaan Diproklamasikan Soekarno-Hatta, Tan Malaka Hanya Apatis